13 November 2015

Analisa Biaya dan Penerimaan



I.          ANALISIS BIAYA

A.    Pengertian Biaya
Biaya adalah semua pengorbanan yang perlu dilakukan untuk suatu proses produksi, yang dinyatakan dengan satuan uang menurut harga pasar yang berlaku, baik yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi. Beban (expense) adalah biaya yang dibebankan dengan pendapatan dalam suatu periode akuntansi.
Pengertian secara ekonomis, biaya merupakan beban yang harus dibayar produsen untuk menghasilkan barang dan jasa  sampai barang tersebut siap untuk dikonsumsi.
Biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur sebagai berikut:
1.    Bahan baku atau bahan dasar termasuk bahan setengah jadi
2.    Bahan-bahan pembantu atau penolong
3.    Upah tenaga kerja dan dari tenaga kerja kuli hingga direktur
4.    Penyusutan peralatan produksi
5.    Uang, modal, sewa
6.    Biaya penunjang seperi biaya angkut, biaya administrasi, pemeliharaan, biaya listrik, biaya keamanan dan asuransi
7.    Biaya pemasaran
8.    Pajak
Biaya produksi dapat kita bagi menjadi dua macam, yaitu:
a.    Biaya Eksplisit ( biaya nyata )
Pengeluaran nyata yang dikeluarkan oleh Perusahaan dari kas
Contoh : pembelian bahan baku, gaji tenaga kerja, pembayaran listrik, dls.

b.    Biaya Implisit ( biaya tidak nyata )
Pengeluaran tidak nyata yang dikeluarkan karena faktor-faktor produksi tersebut.
Contoh: biaya penyusutan alat-alat produksi, dls.

B. Jenis-jenis Biaya Produksi

Biaya produksi membentuk harga pokok produksi yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk jadi dan harga pokok produk pada akhir periode akuntansi masih dalam proses. Biaya produksi digolongkan dalam tiga jenis yang juga merupakan elemen-elemen utama dari biaya produksi, meliputi :
1. Biaya bahan baku (direct material Cost)
Merupakan bahan secara langsung digunakan dalam produksi untuk mewujudkan suatu macam produk jadi yang siap untuk dipasarkan.
2. Biaya tenaga kerja langsung (direct labour cost
Merupakan biaya-biaya bagi para tenaga kerja langsung ditempatkan dan didayagunakan dalam menangani kegiatan-kegiatan proses produk jadi secara langsung diterjunkan dalam kegiatan produksi menangani segala peralatan produksi dan usaha itu dapat terwujud.
3. Biaya overhead pabrik (factory overhead cost
Umumnya didefinisikan sebagai bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung dan biaya pabrik lainnya yang tidak secara mudah didefinisikan atau dibebankan pada suatu pekerjaan

Elemen-elemen dari biaya Overhead Pabrik yaitu :
1.    Biaya bahan penolong 
2.    Biaya tenaga kerja tidak langsung 
3.    Biaya depresiasi dan amortisasi aktiva tetap 
4.    Biaya reparasi dan pemeliharaan mesin 
5.    Biaya listrik dan air pabrik 
6.    Biaya asuransi pabrik 
7.    Operasi lain-lain 

C.     Proses Produksi
Pengumpulan harga produksi sangat ditentukan berdasarkan proses produksinya. Proses produksi dibagi menjadi 2 macam:
1. Produksi atas dasar pesanan 
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan pesanan melaksanakan pengolahan produknya atas dasar pesanan yang diterima dari pihak luar. Perusahaan ini mengumpulkan biaya produksi dengan menggunakan harga pokok pesanan (Job order cost methode)
2. Produksi masa 
Perusahaan yang berproduksi berdasarkan produksi massa melaksanakan pengolahan produknya untuk memenuhi persediaan di gudang yang umumnya produknya berupa standar.
Perusahaan ini mengumpulkan biaya produksinya dengan menggunakan metode harga pokok proses (Process cost methode). Dalam metode, biaya-biaya produksi dikumpulkan untuk periode tertentu dan harga pokok produk persatuan produk yang dihasilkan dalam periode tersebut, dihitung dengan cara membagi total biaya produksi dengan jumlah satuan produk yang dihasilkan dalam periode yang bersangkutan.
D.    Macam-macam Biaya
Teori Biaya produksi menurut jangka waktunya, dibedakan menjadi 2 yakni:
a)        Jangka Waktu Pendek
Dalam jangka pendek perusahan adalah jangka waktu di mana sebagian faktor produksi tidak dapat di tambah jumlahnya. Teori – teori biaya produksi dalam jangka pendek, yakni:

1.      Biaya Total ( Total Cost = TC = C)
Biaya total adalah keseluruhan biaya produksi yang digunakan untuk menghasilkan sejumlah output tertentu baik yang bersifat tetap maupun variable atau biaya total adalah biaya tetap ditambah dengan biaya variabel. Contoh: perusahaan melakukan pengkalkulasian total biaya produksi yang dikeluarkan.
2.      Biaya Variabel (Variable Cost = VC)
Biaya variabel adalah pengeluaran yang berubah bersama dengan tingkat output, seperti bahan mentah, upah, dan bahan bakar dan termasuk semua biaya yang tidak tetap, atau biaya yang berubah ketika terjadi perubahan output. Biaya variabel per unit konstan (tetap) dengan adanya perubahan volume kegiatan. Contoh: energi untuk mengoperasikan pabrik, pekerja produksi sampai staf bagian perakitan.
3.      Biaya Tetap (Fixed Cost = FC)
Biaya tetap adalah biaya yang tidak berubah sama sekali pada saat output berubah. Biaya tetap dalam perusahaan biasanya disebut dengan biaya tidak langsung atau sunk cost. Contoh: pajak bumi dan bangunan, gaji kariyawan dan asuransi. Hal tersebut harus dibayar meskipun perusahaan tidak menghasilkan output, dan besarnya tidak akan berubah walaupun output berubah. Besar kecilnya biaya tetap di pengaruhi oleh kondisi perusahaan jangka panjang, teknologi dan metode serta strategi manajemen.
4.      Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost = AC)
Biaya total rata-rata yaitu biaya diproduksi yang diperhitungkan untuk setiap unit output.
5.      Biaya Variabel Rata-Rata ( Average Variable Cost = AVC)
Biaya variabel rata-rata yaitu biaya variabel yang dibebankan kepada kepada setiap unit output.
6.      Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost = AFC)
Biaya tetap rata-rata yaitu biaya tetap yang dibebankan kepada satu unit output.
7.      Biaya Marginal (Marginal cost = MC)
Biaya marginal adalah kenaikan biaya yang harus dikeluarkan perusahaan sebagai akibat kenaikkan satu output. pada biaya marginal perubahan biaya total dipengaruhi oleh penambahan satu unit produk atau selanjutnya. Kadang biaya marginal dapat sangat rendah seperti pada perusahaan penerbangan, dan dapat sangat tinggi pada perusahaan listrik. Contoh: perusahaan harus menambah anggaran biaya produksi dikarenakan adanya penambahan permintaan dari orderer yang sebelumnya memesan.
TABEL RUMUS

Jenis Biaya
Rumus
Biaya Total (TC)
Biaya Tetap Total+Biaya Berubah Total
TFC+TVC
Biaya Marginal (MC)
biaya totaln-biaya totaln-1    atau
jumlah produksin-jumlah produksin-1
TCn-TCn-1
Qn-Qn-1
Biaya Tetap Rata-rata (AFC)
Biaya tetap total/jumlah produksi
TFC/Q
Biaya berubah rata-rata (AVC)
Biaya berubah/jumlah produksi
TVC/Q
Biaya total rata-rata (AC)
Biaya total/jumlah produksi
TC/Q
Biaya total produksi  atau lebih di kenal total cost (TC) merupakan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan oleh produsen yang berkaitan dengan proses produksi, sebagai aktivitas utama untuk menghasilkan suatu produk. Dalam jangka pendek, total cost sangat di tentukan oleh input- input produksi baik secara kuantitas maupun kualitas. Dimana input – input produksi tersebut dapat memberikan konsekuensi pembiayaaan bersifat tetap dan bersifat variabel.

Pembiaayaan bersifat tetap di sebut biaya tetap atau total fixed cost (TFC) Biaya tetap total (total fixsed cost/TFC) dapat di katakan biaya yang sifatnya wajib di keluarkan oleh produsen dimana ada atau tidak ada aktivitas produksi. Jika biaya tetap tersebut  tidak di keluarkan, maka konsekuensinya dapat menghambat jalannya proses produksi yang lainnya. Membeli  mesin, mendirikan bangunan pabrik adalah contoh dari faktor produksi yang dianggap tidak mengalami perubahan dalam jangka pendek.

Sedangkan biaya variabel (variable cost) merupakan keseluruhan biaya yang harus dikeluarkan ketika ada aktivitas proses produksi. Oleh sebab itu biaya berubah biasanya merupakan perbelanjaan untuk membayar tenaga kerja yang digunakan. 

Jadi besar kecilnya biaya variabel yang dikeluarkan produsen sesuai dan tergantung pada skala proses produksi yang di lakukan. Dengan kata lain semakin besar skala proses produksi, biaya variabel semakin besar. Tetapi jika skala proses produksi relatif kecil maka biaya variabel yang di keluarkan menjadi relatif kecil juga.

b.)  Jangka Waktu Panjang
Dalam jangka panjang perusahaan dapat menambah semua faktor produksi atau input yang akan digunakannya. Oleh karena itu, biaya produksi tidak perlu lagi dibedakan antara biaya tetap dan biaya berubah. Di dalam jangka panjang tidak ada biaya tetap, semua jenis biaya yang dikeluarkan merupakan biaya berubah. Ini berarti bahwa perusahaan-perusahaan bukan saja dapat menambah tenaga kerja tetapi juga dapat menambah jumlah mesin dan peralatan produksi lainnya, luas tanah yang digunakan (terutama dalam kegiatan pertanian) dan luasnya bangunan/pabrik yang digunakan.

Teori – teori biaya jangka panjang diantaranya ialah :
1.    Biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan seluruh output dan bersifat Variabel.
Biaya total sama dengan perubahan biaya Variabel
LTC = ∆LVC
LTC            = biaya total jangka panjang (Long Run Total Cost)
∆LVC         = Perubahan Biaya Variabel jangka panjang

2.    Biaya Marjinal jangka panjang 
Tambahan biaya karena menambah produksi sebanyak 1 unit. Perubahan biaya total sama dengan perubahan biaya variable. Maka, LMC=∆LTC/∆Q
LMC           = Biaya marjinal jangka panjang (Long Run Marjinal Cost)
∆LTC         = Perubahan Biaya Total jangka Panjang
∆Q              = Perubahan Output

3.    Biaya Rata – rata 
Dapat ditulis LRAC=LTC/Q
LRAC        = Biaya Rata – Rata Jangka panjang (Long Run Average Cost)
Q                = Jumlah output


B.     Pengertian Penerimaan
Penerimaan adalah jumlah uang yang diperoleh dari penjualan sejumlah output atau dengan kata lain merupakan segala pendapatan yang diperoleh oleh perusahaan hasil dari penjualan hasil produksinya.
Didalam memproduksi suatu barang, ada dua hal yang menjadi fokus utama dari seorang pengusaha dalam rangka mendapatkan keuntungan yang maksimum, yaitu ongkos (cost) dan penerimaan (Revenue), konsep penerimaan tentu saja dipandang dari sisi permintaan (bukan penawaran karena tidak semua barang yang ditawarkan akan menjadi penerimaan (belum tentu laku dijual)).
Oleh karena sifat penerimaan berhubungan dengan unit barang yang dijual maka bila perusahaan tidak menghasilkan dan menjual barang maka tentu saja penerimaan perusahaan 0, sebaliknya semakin banyak jumlah barang terjual semakin besar penerimaan sehingga kurva penerimaan berupa garis lurus tak hingga. Akan tetapi terkadang ada juga kasus dimana penerimaan dan justru akan makin menurun seiring bertambahnya jumlah penjualan, hal ini tentu saja dikarenakan factor permintaan atas barang dan juga karena factor keberhasilan promosi. Dalam istilah matematis penerimaan yang semakin lama semakin menurun nilainya seiring dengan bertambahnya penjualan adalah penerimaan fungsi kuadrat ditanya dimana penerimaan ini memiliki nilai ekstrim.
C.     Macam-macam Penerimaan

1.      Total Penerimaan (Total revenue = TR)
Total penerimaan adalah jumlah seluruh penerimaan perusahaan dari hasil penjualan sejumlah produk (barang yang dihasilkan). Cara untuk menghitung penerimaan total dapat dilakukan dengan mengalikan jumlah produk dengan harga jual produk per unit. Jika dirumuskan sebagai berikut:
TR = Q x P
Keterangan:
TR             = Penerimaan total perusahaan
Q               = Jumlah produk yang dihasilkan
P                = Harga jual per unit

2.     Penerimaan Rata-rata (Average Revenue = AR)
Penerimaan rata-rata adalah penerimaan per unit produk yang terjual. Untuk menghitung penerimaan rata-rata dapat dilakukan dengan cara membagi penerimaan total dengan jumlah produk (barang) yang terjual. Jika dirumuskan sebagai berikut :
AR = TR / Q
Keterangan:
AR            = penerimaan rata-rata
TR             = penerimaan total
Q               = jumlah produk yang dihasilkan
3.     Penerimaan Marginal (Marginal Revenue = MR)
Penerimaan marginal adalah penerimaan tambahan dari adanya tambahan per unit produk yang terjual. Cara menghitung penerimaan marginal dengan membagi tambahan penerimaan total dengan tambahan jumlah produk yang terjual. Jika dirumuskan sebagai berikut :
MR = TR / Q
Keterangan:
MR            = penerimaan marginal
TR             = tambahan penerimaan total
Q               = tambahan jumlah produk yang dihasilkan.

D.    Analisa Biaya dan Penerimaan
Berdasarkan konsep penerimaan dan biaya (TR dan TC)  dapat diketahui beberapa kemungkinan diantaranya :
TR >TC   = keadaan untung / laba
TR = TC  = keadaan  Break Even Point
TR < TC  = Keadaan rugi
Contoh menganalisa biaya dan penerimaan : sebuah pabrik Sandal dengan Merk " Idaman" mempunyai biaya tetap (FC) = 1.000.000; biaya untuk membuat sebuah sandal Rp 500; apabila sandal tersebut dijual dengan harga Rp 1.000, maka:
Ditanya:
a.       Variable Cost, Biaya total (TC / C) dan penerimaan total ( TR).
b.      Pada saat kapan pabrik sandal mencapai BEP
c.       Untung ataukah rugikah apabila memproduksi 9.000 unit
Jawab:
a.       Diketahui:    FC = Rp 1.000.000
AVC = Rp 500
      P = Rp 1000
Ditanya: Biaya variable = VC? Biaya total = TC? dan penerimaan total TR?
1.      VC = AVC.Q = 500Q
2.      TC = FC + VC = 1.000 + 500Q
3.      TR = P.Q = 1.000Q


b.      Break Even Point (titik impas) terjadi pada saat TR = TC
1.000 Q = Rp 1.000.000 + 500 Q
1.000 Q - 500 Q = 1.000.000
    500 Q = 1.000.000
Q = 2.000 unit
Pabrik sendal akan  mengalami BEP pada saat Q = 2.000 unit
v  Pada biaya total  TC = FC + VC = 1.000 + 500Q = 1.000.000 + 500 ( 2.000) = 2.000.000
v  Biaya variable VC = AVC.Q = 500Q = 500 (2.000) = 1.000.000
v  Penerimaan total TR = P.Q = 1.000Q = 1.000 (2.000) = 2.000.000
c.       Pada saat memproduksi Q = 9000 unit
TR = P.Q = 1.000  X  9.000
= 9.000.000
TC = 1.000.000 + 500 (Q)
= 1.000.000 + 500 ( 9.000)
= 1.000.000 + 4500.000
TC = 5.500.000
Bila  TR > TC, maka keadaan laba / untung.
laba = TR - TC
= 9.000.00 - 5.500.000
= 3.500.000

No comments:

Post a Comment